Harian berita – Para demonstran bakal kembali meramaikan Pusat Ibu Kota oleh demonstrasi sejumlah elemen massa pada Senin (2/11/2020).
Selain penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja yang sudah dimulai sejak awal Oktober, pada demo kali ini pengunjuk rasa juga mengecam pemerintah Perancis karena dinilai menistakan agama. Akan ada sebanyak 7.766 personel gabungan mengawal demo agar tetap tertib.
Komisaris Besar Yusri Yunus, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya mengatakan, para personel yang akan melakukan pengamanan berasal dari unsur TNI, Polri, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Polisi, TNI, dan Pemprov siap membantu mengamankan jalannya aksi tersebut,” ucapnya.
Yusri menuturkan, pemberitahuan dari sejumlah penanggung jawab unjuk rasa sudah diterima oleh Polda Metro Jaya. Dari informasi yang diberikan, fokus pengumpulan massa terpetakan di dekat Patung Arjuna Wijaya atau Patung Kuda. Perbatasan Jalan MH Thamrin dengan Jalan Medan Merdeka Barat. Lalu untuk aksi damai akan dilakukan di dekat Kedutaan Besar Perancis di Jalan MH Thamrin.
Polda Metro Jaya tidak mengeluarkan surat tanda terima pemberitahuan (STTP) atas pemberitahuan-pemberitahuan unjuk rasa yang masuk karena Jakarta masih rawan penularan Covid-19.
“Namun, kalau toh akan dilaksanakan, kami mengharapkan ke teman-teman menyampaikan aspirasi dengan damai,” ujar Yusri.
Tidak hanya menjaga keamanan selama demo berlangsung, petugas gabungan juga menjalankan fungsi preemtif dan preventif sebelum unjuk rasa.
Secara preemtif, petugas berkomunikasi dengan penanggung jawab demo tentang risiko penyebaran Covid-19 di kerumunan serta pentingnya menjaga massa dari penyusupan provokator. Lalu secara preventif, petugas melakukan patroli dan razia untuk mencegah orang-orang yang sejak awal berniat rusuh bergabung dengan massa aksi.
TNI, Polri, dan Pemprov DKI juga menyiagakan sekitar 8.000 personel cadangan, yang akan ditempatkan di Markas Polda Metro Jaya dan kawasan Monas.
Hal ini dibutuhkan jika jumlah petugas yang sedang bekerja tidak memadai karena jumlah peserta demo terus membesar, personel cadangan akan diturunkan ke lapangan.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo sudah mengimbau pengguna jalan untuk menghindari berkendara ke area Istana Merdeka dan Jalan MH Thamrin serta kawasan sekitarnya, di hari Senin.
Polda Metro Jaya juga menyiapkan rekayasa lalu lintas di sekitar dua titik tersebut merespons adanya rencana demo.
Adanya wacana unjuk rasa ke Kedubes Perancis dipicu dugaan penistaan agama di Prancis.
Sebelumnya 29 Oktober, dua warga masing-masing berusia 60 tahun dan 44 tahun serta seorang pria berusia 50 tahun dibunuh di dalam Basilika Notre Dame di Nice, Perancis.
Dikutip dari The Guardian, pembunuh yang disebut media-media Perancis bernama Brahim Aouissaoui (21), masuk secara ilegal ke Perancis, berasal dari Tunisia.
Peristiwa itu berlangsung 13 hari dari pembunuhan guru Sejarah, Samuel Paty (47), di Paris.
Presiden Perancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa insiden pembunuhan tersebut adalah serangan tipikal teroris Islam. Hal ini memicu kecaman dari berbagai pihak.
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo termasuk salah satu yang memprotes pernyataan Presiden Perancis.
”Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun. Terakhir, Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama untuk membangun dunia yang lebih baik,” ucap Presiden.
